Sunday, August 16, 2020

mendung rasa

tidak dapat ku ucap rasa,
lemas memenuhi dada,
membuat aku jadi gelisah,
sekali lagi perlu mengalah,
pada takdir dan nasib diri,
mungkin masanya masih rahsia,
untuk aku merasa bahagia.
rasa cinta.


gelap malam ini jadi teman,
diiringin senandung unggas menyanyi,
memberi aku simfoni,
masih ada ruang cahaya,
hanya jika aku sudi membuka bicara.


hanya bersangka baik pada dia,
mungkin sedikit masa lgi,
impian yang aku mimpi,
tuntas diukir menjadi realiti,
tidak lagi jadam hari ini.

duhai hati,
padamu ku rayu,
sembunyikan mendungmu.

duhai diri,
usah kau tangisi,
esok, mentari itu kembali 
membawa perlu mendung hati,
jauh,
jauh dari mimpi.

Thursday, June 18, 2020

kepada tuhan aku tongkatkan nyata,
menguat tiang seri hati,
agar terus gagah,
memacak tanah kontang ini.

kepada tuhan aku bersaksikan sakti,
menreneh penawar bisa tuba,
agar hilang racunnya.

kepada hati aku pacakkan kersani,
biar gagah berdiri,
merentas badai salji,
beku dingin hati. 

tangisan hati

dada penuh dengan gelora,
perlbagai perisa, bercampur baul
menjadi jadam hati,
menangis sendiri.

sekak,
sebak,
tiada ruang lagi.
seperti sekam,
hangat membakar hati. 

biar saja tangis itu,
khabarkan semua pada dunia,
segala yang kau rasa. 
jangan kau hijab dengan tawa,
menyadur duka yang kau rasa.

biar saja hati itu menangis,
membasuh segala bisa,
memadam segala lara. 

biar saja tangisan hati,
menjadi azimat kelmarin dan hari ini.



Tuesday, June 16, 2020

harapan semalam

tidak dapat aku kongsi
gelodak hati,
seperti aku sendiri tidak pasti.

aku cuba,
melihat dunia dari kaca mata mereka,
merasionalisasi segala rasa,
mengubat tiap duka.

nafas itu,
aku hela berat,
membuang segala gelodak yang membuak,
memenuhi ruang sempit dada,
tiada ruang untuk aku bernyawa.

terpaksa aku terima,
kegagalan hari ini dan esok,
seiring dengan doa pada tuhan,
teruskan harapan semalam.

Tuesday, April 21, 2020

kamar dingin

dingin kamar ini,
membuat aku asyik mengukir mimpi,
mimpi yang aku pasti jauh dari tangkai realiti,
mimpi yang aku sedar tidak akan pasti.

dalam aku mengerti,
aku terus biar diri buta dan tuli,
malar dalam dunia yang hanya ada aku dan mimpi.

rasionalnya aku sedar,
tetapi hambar,

aku terasa pengap dalam kamar yang tidak berdinding,
aku terasa mengah dalam lumba yang belum bermula,
aku tewas sebelum akhirnya.
realitinya terlaku sukar,
lantas aku memilih ilusi dan kamar dingin ini.

bayu

Friday, March 6, 2020

hari ini

Hari ini aku ingin jadi sang pujangga,
Merenung langit berombak awan,
Tenang.

Hari ini aku ingin jadi sang pemuisi,
Berteman sepoi lembut bayu,
Nyaman.

Hari ini aku ingin jadi pemimpi,
Bersaksi sebatang pen kaku,
Mengukir.

Hari ini aku ingin jadi sang pecinta,
Bersulam detak detik hati,
Lemas.

Hari ini,
Aku ingin jadi diri sendiri,
Walau semalam aku tewas,
Kelmarin masih samar,
Walau hanya untuk hari ini,
Aku ingin terus berdiri.

-hari ini- 6/3/2020 JPF

bayu

hijab memori

Dalam aku merintih rasa,
Rupanya tiada.

Dalam aku mengukir rinsu,
 Rupanya berlalu.

Lantas aku jadi keliru,
Terpedaya dengan hijab yang nyata,
Menyembunyi duka.

Bepusing,
Bermain gelora,
Ombak masih tidak menyising reda,
Angin masih membelah derita,
Membawa pergi rasa yang diperam,
Rindu yang dikarang.

Dunia kita tidak sama,
Malam dan siang tidak berkongsi warna,
Tentunya tidak sama rasa.

Aku masih dipinggir ini,
Sekali sekala mengayam sepi
Bersulam memori.

-hijab memori- 5/3/2020 JPF

bayu